Tampilkan postingan dengan label Ebook. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ebook. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Agustus 2015

Wirid Imam Nawawi

"Pembacaan Wirid An Nawawi"


Gambar Teks Wirid Imam Nawawi (Arabic):

12

 34

 56

7

Wirid An Nawawi adalah wirid oleh Syekh Muhyiddin Zakariyya Yahya An-Nawawi, maka dari itu disebut Wirid Nawawi. Wirid ini mempunyai banyak hikmah yang sangat besar dan sangat baik untuk diamalkan setiap harinya.

Download Audio (Mp3) | Download Teks (Pdf)

Kamis, 18 Juni 2015

Fikih Shalat 4 Madzhab - Abdul Qadir Ar-Rahbawi

"Mempelajari hukum-hukum shalat adalah fardhu 'ain bagi setiap muslim. Sebab dengan mengetahuinya, dia dapat mendirikan shalatnya dengan benar, khusyu' dan sempurna"

Fikih Shalat Empat Madzhab merupakan buku yang ditarjemahkan dari kitab berjudul al-Shalah 'alaa Madzahibil Araba'ah karya Syekh Abdul Qadir al-Rahbawi.
Kitab ini menyajikan perbandingan shalat empat madzhab dengan sangat menarik, lugas dan mudah dipahami oleh semua kalangan, juga disertai dengan dalil-dalil yang dijadikan sandaran di dalamnya. Diharapkan dengan ini, bisa saling memahami perbedaan yang ada di antara madzhab-madzhab Islam, sehingga dengan begitu tidak perlu adanya 'pecah belah' di antara kaum Muslimin.
Mempelajari hukum-hukum shalat adalah fardhu 'ain bagi setiap muslim. Sebab, dengan mengetahuinya, dia dapat mendirikan shalatnya dengan benar, khusyu' dan sempurna. Sementara jika shalatnya kurang sempurna atau rusak salah satu syarat dan rukunnya, dan tidak sesuai dengan contoh dari Rasulullah S.a.w, maka shalat tersebut tertolak dan tidak akan diterima oleh Allah S.w.t. Ironisnya, umat islam dewasa ini banyak yang tidak memahami bagaimana tata cara shalat yang benar sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad S.a.w. Mereka sekadar shalat tanpa mengetahui dasar-dasar hukumnya. Bahkan, karena ketidakpahaman mereka tentang hukum-hukum shalat, ada yang berani menyalahkan kaum muslimin yang lain yang berbeda tata cara shalatnya.
Dalam melaksanakan ibadah, tak terkecuali sholat, kaum muslimin banyak mengikuti empat madzhab yang besar, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hanbali. Seringkali perselisihan timbul di antara kaum Muslimin di berbagai masjid, disebabkan karena perbedaan madzhab. Contohnya mengenai membaca doa qunut ketika shalat subuh, sebagian ada yang qunut dan sebagian lagi tidak qunut. Perbedaan itu mestinya dapat disikapi dengan baik dan penuh toleransi seandainya kaum Muslimin memahami agama Islam dengan benar.
Faktor-faktor di atas telah memotivasi Syekh Abdul Qadir Ar-Rahbawi untuk menulis sebuah buku yang berjudul Ash-Shalatu 'ala al-Madzhahibi al-Arba'ah
Download e-Book Fikih Shalat Empat Madzhab <<DISINI>>

Keterangan: e-Book dalam format DjVu (program pembuka file DjVu untuk PC download di sini) memuat keseluruhan isi buku yang terdiri dari 262 halaman (lengkap). Namun perlu diperhatikan, karena e-Book ini di-scan dari terbitan Hikam Pustaka maka sesuai rekomendasi dari pihak penerbit buku yang telah kami konfirmasi via telpon mengenai pembuatan dan penyebaran buku dalam format e-Book, maka bagi yang mendownload e-Book ini, hanya diizinkan untuk dijadikan sebagai referensi pribadi.  Juga dianjurkan untuk membeli buku aslinya di toko yang menyediakan.
Sumber: www.ashhabur-royi.blogspot.com

Semoga bermanfaat, Wassalam

Tafsir Al Qur'an Kitab Jalalain

Tafsir Jalalain merupakan kitab tafsir karya Jalaluddin Muhammad bin Ahmad al-Mahalli (791 H-864 H) dan Abu al- Fadl Abdur Rahman bin Abu Bakar bin Muhammad Jalaluddin as-Suyuti (849-911 H). 
Ia disebut Jalalain yang berarti dua (ulama tafsir bernama) Jalal. 
Kitab Tafsir Jalalain ini sangat populer dikalangan ummat Islam di Indonesia sejak berabad-abad yang lalu. Ia banyak dipakai di madrasah-madrasah tingkat ‘Aliyah dan bahkan di kalangan universitas Islam pun kitab tafsir ini dijadikan salah satu dari bahan referensinya dalam cabang tafsir.
Link Download <DISINI>

Terjemah Kitab Ihya Ulumuddin - Imam Al Ghazali

"Jika semua kitab Islam hilang, dan yang tersisa hanya kitab al-Ihya, ia dapat mencukupi semua kitab yang hilang tersebut"

Kitab Ihya Ulumuddin adalah sebuah kitab monumental karya Imam Al Ghazali yang sangat terkenal dan telah banyak dibaca oleh berbagai kalangan. Oleh ulama-ulama fuqaha, Ihya dijadikan sebagai rujukan standar dalam bidang fiqih, sedangkan oleh para sufi, kitab ini memuat materi-materi pokok yang tidak boleh ditinggalkan. Kedua bahagian ilmu tersebut (fiqih dan tasawuf) memang terkandung di dalam kitab ini, sehingga menjadikan Ihya sebagai kitab yang sangat hebat, karena didalamnya telah terangkum berbagai jenis ilmu.
Awalnya penyalinan kitab dilakukan dengan cara tulisan tangan (makhtutoh) yakni Al Ihya dibuat sebanyak hampir 120 makhtutoh yang kemudian di simpan di perpustakaan-perpustakaan terkenal di dunia, seperti Perpustakaan Darul Kutub Al-Misriyyah, Al-Azhar, Paris, Istanbul, Teheran, dan lainnya. Setelah era ditemukannya mesin percetakan, cetakan Ihya terus dilakukan dan diperbanyak, sehingga menjadi tersebar ke berbagai negara Muslim.
Secara global, isi keseluruhan kitab Ihya Ulumuddin telah mencakup tiga sendi utama pengetahuan Islam, yakni Syari`at, Thariqat, dan Haqiqat. Imam Ghazali juga telah mengkoneksikan ketiganya dengan praktis dan mudah ditangkap oleh nalar pembaca. As-Sayyid Abdullah Al Aydrus memberikan sebuah kesimpulan bahwa dengan memahami kitab Ihya, seseorang telah cukup untuk meraih tiga sendi agama Islam tersebut.
Imam Zainuddin al-Iraqi berkata: “Kitab Ihya Ulumuddin adalah termasuk kitab Islam paling agung dalam mengetahui halal dan haram, menghimpun hukum hakam zahir, dan mencabutnya kepada rahasia-rahasia yang sangat dalam pemahamannya. Tidak cukup hanya masalah furu’ dan persoalannya, dan tidak pula membiarkan mengarungi lebih dalam ke dasar samudera sehingga tidak mampu kembali ke tepian, akan tetapi beliau mengumpulkan antara ilmu zahir dan ilmu bathin, menghiasai makna-maknanya dengan sebaik-baik tempatnya. Menuturkan mutiara-mutiara lafaz dan dhabtntya.“. (Ta’rif al-Ahya bi Fadhail al-Ihya: 9).
Quthbil Auliya As-Sayyid Abdullah Al Aydrus Al Akbar berpesan kepada segenap umat Islam untuk selalu berpegang teguh pada Al Qur’an dan Sunnah, sedangkan penjelasan (mengenai) keduanya, telah termuat dalam Kitab Ihya Ulumiddin karya Imam Ghazali.
Sekilas Mengenai Penulis
Beliau adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Ibnu Muhammad al Ghazali, yang lebih dikenal dengan nama Imam Al Ghazali. Beliau dilahirkan di kota Thos, Khurasan, negeri Persia, pada tahun 450 Hijriyah. Imam Al Ghazali belajar fiqih pada Ulama Fiqih Syafi’i yang mashur, yaitu Imamul Haraini Abul Nfa’ali Al Juwaini (w 478 H) di negeri Nisabur, Persia.
Imam Al Ghazali adalah seorang alim besar, sufi, ahli hukum, yang digelari sebagai Zainuddin Hujatul Islam, ia seorang ulama terkemuka yang sangat berpengaruh di dunia Islam. Tak hanya itu bahkan Majelis Pengajiannya pun diberi nama oleh orang-orang dengan julukan “Majelis 300 Sorban besar”. Beliau selain ahli fiqih, juga ahli tasawuf yang tak ada tandingannya ketika itu. Imam Ghazali juga mengajar pada Sekolah Tinggi Syafi’iyah An Mizhamiyah di Bagdad tahun 484 H.
Dalam fiqih Syafi’i, beliau mengarang kitab-kitab Al Wasith, Al Basith tlan Al Wajiz yang sampai sekarang terpakai pada sekolah-sekolah Syafi’iyah. Salah satu kitab yang ditulisnya dalam bidang tasawuf ialah Kitab Ihya Ulumuddin, kitab ini sangat terkenal dan hingga kini dipakai oleh seluruh ulama dalam dunia Islam. Begitu luas dan dalamnya pembahasan dalam karyanya ini, sejumlah ulama banyak memberikan komentarnya atas kitab ini. Imam an-Nawawi berkata: ”Jika semua kitab Islam hilang, dan yang tersisa hanya kitab al-Ihya`, ia dapat mencukupi semua kitab yang hilang tersebut.”.

Download Terjemah Kitab Ihya Ulumuddin (Bahasa Indonesia):
Jilid 1 | Jilid 2 | Jilid 3

Kitab Ihya Ulumuddin (Arabic)  
Volume 1 | Volume 2 

Catatan penting: 
khusus bagi penelaah kitab-kitab yang berbahasa arab, terutama lagi kitab klasik, pembaca sangat ditekankan agar terlebih dahulu menguasai ilmu nahwu, shorof dan balagah arabiyah, serta beberapa ilmu 'alat' lainnya, ini dimaksudkan agar pembaca mencapai kepada puncak pengertian dan pemahaman yang tertinggi dari apa yang ingin disampaikan oleh penulis melalui kitabnya.

Tafsir Ibnu Katsir 30 Juz Lengkap

Download Tafsir Ibnu Katsir 30 Juz Terjemah Indonesia


Sesungguhnya memahami Kalamullah adalah cita-cita yang paling mulia dan taqarrub (pendekatan diri kepada Allah) yang paling agung. Amalan ini telah dilakukan shahabat, tabi’in dan murid-murid mereka yang menerima dan mendengar langsung dari guru-guru mereka. Kemudian dilanjutkan oleh generasi berikutnya yang mengikuti jejak mereka hingga hari kiamat. 
Tidak diragukan, orang pertama yang menerangkan, mengajarkan, dan menafsirkan Al Qur’an adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Para shahabat telah menerima Al Qur’an dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara bacaan dan pemahaman. Mereka mengetahui makna-makna, maksud-maksud dan rahasia-rahasianya karena kedekatan mereka dengan Rasulullah, khususnya Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin, Abdullah bin Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubai bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa Al-Asy’ari dan Abdullah bin Az-Zubair radhiallahu ‘anhum.
Mereka adalah para shahabat yang terkenal alim di antara shahabat lainnya. Para shababat adalah guru-guru bagi tabi’in yang di kemudian hari melahirkan ahli tafsir dari generasi ini di Makkah, Madinah dan Irak. Dari shahabat dan tabi’in, dilahirkan ahli tafsir yang mengetahui sejarah tafsir -di madrasah tafsir dengan atsar (jejak/petunjuk) Nabi dan Shahabat- yaitu imam besar dalam ushul tafsir: Muhammad bin Jarir Ath-Thabari (wafat 310 H).
Download Tafsir Ibnu Katsir 30 JuzCiri khas dari madrasah tafsir dengan atsar adalah menafsirkan ayat Al Qur’an dengan satu atau lebih ayat Al Qur’an lainnya. Bila tidak memungkinkan maka ditafsirkan dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang shahih. Jika tidak ditemukan hadits yang menjelaskannya maka ditafsirkan dengan ucapan shahabat terutama shahabat yang telah disebutkan di atas. Jika ucapan shahabat tidak ditemukan maka dengan ucapan tabi’in seperti Mujahid, Ikrimah, Sa’id bin Al-Musayyib, Sa’id bin Jubair, ‘Atha bin Abi Rabbah dan Al-Hasan Al-Basri. Namun jika semuanya ada, maka biasanya disebut semua.
Adapun menafsirkan Al Qur’an dengan akal semata, haram menurut kesepakatan ulama Ahlus Sunnah, apalagi tafsir yang dilandasi ilmu filsafat -walaupun terkadang benar- termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Barangsiapa berkata tentang Al Qur’an dengan akalnya atau tanpa ilmu maka siapkanlah tempat duduknya dengan api neraka.” (HR. At-Tirmidzi, hadits hasan)
Di abad ke-8 Hijriyah lahir seorang ulama ahli tafsir yang merupakan alumnus akhir madrasah tafsir dengan atsar. Dialah Isma’il bin ‘Umar bin Katsir rahimahullah, salah seorang murid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (wafat tahun 774 H). Tafsirnya dijadikan rujukan oleh para ulama dan penuntut ilmu semenjak jaman beliau hingga sekarang.
Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah -beliau juga menulis tafsir- mengatakan bahwa Tafsir Ibnu Katsir adalah salah satu kitab tafsir terbaik, jika tidak bisa dikatakan sebagai tafsir terbaik, dari kitab-kitab tafsir yang ada. Al-Imam As-Suyuthi rahimahullah menilai tafsirnya menakjubkan, belum ada ulama yang menandinginya. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam bukunya Al-‘Ilmu menganjurkan penuntut ilmu membaca Tafsir Al Qur’anil ‘Azhim atau yang lebih dikenal dengan Tafsir Ibnu Katsir.

Tafsir Ibnu Katsir 30 Juz Bahasa Arab  Full                                   DOWNLOAD
Tafsir Ibnu Katsir 30 Juz Terjemah Bahasa Indonesia Full           DOWNLOAD

Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani terkenal sebagai pribadi yang teguh dalam berprinsip, sang pencari sejati, dan penyuara kebenaran kepada siapapun, dan dengan risiko apapun. Usianya dihabiskan untuk menekuni jalan tasawuf, hingga ia mengalami pengalaman spiritual dahsyat yang mempengaruhi keseluruhan hidupnya. Jejak Syekh Abdul Qadir Al-Jailani juga dijumpai dalam belasan karya orisinalnya.

Abdul Qadir Al-JailaniBeliau lahir pada tahun 470 H. (1077-1078 M) di al-Jil (disebut juga Jailan dan Kilan), kini termasuk wilayah Iran. Tahun kelahirannya ini didasarkan atas ucapannya kepada putranya bahwa ia berusia 18 tahun ketika tiba di Baghdad, bertepatan dengan wafatnya seorang ulama terkenal , at-Tamimi, pada tahun 488 H.
Tahun itu juga bertepatan dengan keputusan Imam Abu Hamid al-Ghazali untuk meninggalkan tugasnya mengajar di Universitas Nidzamiah, Baghdad. Sang imam ternyata lebih memilih uzlah.

Selain mewarisi banyak karya tulisan, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani meninggalkan beberapa buah nasehat menjelang kewafatannya. Akhir hayat Syekh didahului dengan kondisi kesehatannya yang terus menurun. Kala itu putra-putranya menghampiri dan mengajukan sejumlah pertanyaan.

”Berilah aku wasiat, wahai ayahku. Apa yang harus aku kerjakan sepergian ayah nanti?” tanya putra sulungnya, Abdul Wahab.

”Engkau harus senantiasa bertaqwa kepada Allah. Jangan takut kepada siapapun, kecuali Allah. Setiap kebutuhan mintalah kepada-Nya. Jangan berpegang selain kepada tali-Nya. Carilah segalanya dari Allah,” jawab sang ayah.

Nasab Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
Nasab dari Ayah
Sayyid Abu Muhammad Abdul Qadir Al-Jailani ayahnya bernama : Abu Sholeh Janki Dausat, putra Abdullah, putra Yahya az-Zahid, putra Muhammad, putra Daud, putra Musa at-Tsani, putra Musa al-Jun, putra Abdulloh al-Mahdi, putra Hasan al-Mutsanna, cucu Nabi Muhammad saw. putra Sayyidina ‘Ali Karromallohu Wajhahu.

Nasab dari Ibu
Sayyid Abdul Qadir Al-Jailani ibunya bernama : Ummul Khoer Ummatul Jabbar Fathimah putra Sayyid Muhammad putra Abdulloh asSumi’i, putra Abi Jamaluddin as-Sayyid Muhammad, putra al-Iman Sayid Mahmud bin Thohir, putra al-Imam Abi Atho, putra sayid Abdulloh al-Imam Sayid Kamaludin Isa, putra Imam Abi Alaudin Muhammad al-Jawad, putra Ali Rido Imam Abi Musa al-Qodim, putra Ja’far Shodiq, putra Imam Muhammad al-Baqir, putra Imam Zaenal Abidin, putra Abi Abdillah al-Husain, putra Ali bin Abi Tholib Karromallohu wajhah.

Dengan demikian, Syekh Abdul Qodir Al-Jailani adalah Hasani dan sekaligus Husaini.

Hubungan Guru & Murid
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani berkata, “Seorang Syeikh tidak dapat dikatakan mencapai puncak spiritual kecuali apabila 12 karakter berikut ini telah mendarah daging dalam dirinya.
  1. Dua karakter dari Allah yaitu dia menjadi seorang yang sattar(menutup aib) dan ghaffar (pemaaf).
  2. Dua karakter dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam yaitu penyayang dan lembut.
  3. Dua karakter dari Abu Bakar yaitu jujur dan dapat dipercaya.
  4. Dua karakter dari Umar yaitu amar ma’ruf nahi munkar.
  5. Dua karakter dari Utsman yaitu dermawan dan bangun (tahajjud) pada waktu orang lain sedang tidur.
  6. Dua karakter dari Ali yaitu alim (cerdas/intelek) dan pemberani.
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menghembuskan nafas terakhir di Baghdad, Sabtu bakda maghrib, 9 Rabiul Akhir 561 H atau 15 Januari 1166 M, pada usia 89 tahun. Dunia berduka atas kepulangannya, tapi generasi penerus hingga sekarang tetap setia melanjutkan ajaran dan perjuangannya.

Tahun itu juga bertepatan dengan keputusan Imam Abu Hamid al-Ghazali untuk meninggalkan tugasnya mengajar di Universitas Nidzamiah, Baghdad. Sang imam ternyata lebih memilih uzlah.

Selain mewarisi banyak karya tulisan, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani meninggalkan beberapa buah nasehat menjelang kewafatannya. Akhir hayat Syekh didahului dengan kondisi kesehatannya yang terus menurun. Kala itu putra-putranya menghampiri dan mengajukan sejumlah pertanyaan.

”Berilah aku wasiat, wahai ayahku. Apa yang harus aku kerjakan sepergian ayah nanti?” tanya putra sulungnya, Abdul Wahab.

”Engkau harus senantiasa bertaqwa kepada Allah. Jangan takut kepada siapapun, kecuali Allah. Setiap kebutuhan mintalah kepada-Nya. Jangan berpegang selain kepada tali-Nya. Carilah segalanya dari Allah,” jawab sang ayah.


Download lengkap Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani <DISINI>

Kitab Bulughul Maram


Bulughul Maram adalah kumpulan hadits karya al-Hafizh Ibnu Hajar yang banyak dijadikan istinbath hukum fikih oleh para fuqaha dan disertai keterangan derajat kekuatan hadits. Sistem penulisannya diurutkan berdasarkan urutan pembahasan bab fikih. Di akhir kitab dimasukkan pembahasan penting tentang adab, akhlak, dzikir dan doa. Dalam Bulughul Maram akan tampak keindahan tehnik penulisan hadits Ibnu Hajar; seringkali beliau menampilkan hadits yang paling shahih dan kuat, meringkas hadits yang panjang, membahas panjang lebar tentang penisbatan periwayat hadits, memberi keterangan derajat hadits dengan memberi isyarat dari ilalnya.

Di antara kehebatannya adalah ketika beliau menyertai hadits dengan potongan dan tambahan yang muncul dari sebagian jalur sanad hadits yang berfungsi sebagai pengikat lafazh mutlak (taqyid al-muthlaq), perinci lafazh mujmal (tafshil al-mujmal), dan penghilang pertentangan (raf'u at-ta'arudh). Dengan keistimewaan tersebut banyak ulama yang mengkaji, mensyarah, dan menerapkan manhajnya. Bahkan buku tersebut telah diterjemahkan ke beberapa bahasa asing.
Link Download <DISINI> atau <DISINI>

Hizb Nashr Imam Haddad dan Hizb Bahr Imam Syadziliy

 
"Penuh dengan doa-doa yang diajarkan oleh Rasul Saw, tidak satu kalimatpun kecuali dari hadits Nabi Saw dan Firman Allah Swt yang dipadu oleh Hujjatul Islam Al Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad"
(Habib Munzir AlMusawa)
sumber: Majelis Rasulullah

Download Audio (Mp3)
Download Teks (Doc)

 ========================================================================


Hizib inilah yang al-Imam Abu Hasan asy-Syadzili selalu berwasiat kepada anak-anak muridnya supaya rajin dibaca, diamalkan dan diajarkan kepada anak-anak. Karena di dalamnya mengandungi al-Ismul A'dzam (Nama Allah Yang Maha Agung). Hizb ini diajarkan oleh Rasulullah S.A.W melalui mimpi beliau. Imam Abul Hasan asy-Syadziliy langsung bangun dari tidurnya dan mengambil air wudhu lalu segera menirukan lafadz-lafadz doa yang dituntunkan oleh Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam. Doa-doa itu kemudian ditulis dan diabadikan oleh beliau dan diajarkan kepada murid-muridnya.

al-Imam Abu Hasan asy-Syadzili
  • Nama: Abu Hassan Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar bin Tamim bin Hurmuz bin Hatim bin Qushoy bin Yusuf bin Yusya' bin Ward bin Abu Batthal Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Isa bin Idris bin Abdullah bin al-Hasan al-Mutsanna bin al-Hasan bin Ali bin Abu Thalib Karamallahu Wajhah suami Fatimah binti Muhammad S.A.W.
  • Tempat lahir: Kampung Syazilah iaitu sebuah kampung di Afrika.
  • Tarikh lahir: 593 Hijriyah.
  • Menetap: Di Iskandariah iaitu sebuah bandar besar di Mesir menyebarkan ilmu dan menjadi Syeikh Tariqat asy-Syaziliah. Beliau seorang yang buta tetapi Alah telah gantikan dengan penglihatan yang terang benderang.
  • Wafat: Di padang Sahara Iz'aab pada 656 Hijriyah dalam perjalanan menunaikan haji.

Sejarah di Tulisnya Hizbul Bahr
Pada suatu saat Imam Abul Hasan asy-Syadziliy radhiyallaahu'anhu pergi berlayar dengan perahu layar kecil bersama dengan beberapa orang saja. Namun sesampainya di laut merah yaitu laut yang membelah antara Benua Asia dan Benua Afrika, tiba-tiba tiada angin yang bertiup sama sekali, sehingga perahu layar kecil itu tak bisa berlayar selama 4 atau 5 hari.
Pada suatu malam al-Imam Abul Hasan asy-Syadziliy bermimpi bertemu dengan Rasulullah Shallallaahu'alaihi wa Sallam, baginda Nabi datang dengan membawa kabar gembira dan mangajarkan lafadz-lafadz doa kepada Sayyidinal-Imam Abul Hasan asy-Syadziliy. Seusai Imam Abul Hasan asy-Syadziliy membaca doa tersebut, angin bertiup dan membawa perahu kayarnya kembali berlayar.
Doa tersebut dijadikan wirid harian oleh beliau dan seluruh santrinya, dan beliau memberi nama doa itu dengan Hizb al-Bahr (wirid lautan).

Download Audio Pembacaan Hizb Bahr Imam Syadziliy (Mp3) DISINI
Download Teks Hizb Bahr Imam Syadziliy (Pdf) DISINI

Syekh Abdul Qadir Al Jailany

"Takutlah jikalau berturut-turut bintik itu datang dan datang lagi, sehingga hati akhirnya dipenuhi dengan bintik hitam dan seluruhnya menjadi hitam"

"Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya, demikian juga apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya. Dia lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.". (QS Al Fathir: 2).
"Sebelum manusia sadar akan hubungan dirinya dengan Tuhannya, Penciptanya, (maka) samalah keadaannya saat itu dengan mati"

Hidup ini belum berarti apa-apa jika belum mempunyai kesadaran akan arti hidup. Sebelum hal ini kita sadari, sama saja arti hidup ini dengan mati karena hidup yang tidak berarti sama halnya dengan mati. Dapat lebih ditegaskan lagi bahwa kepercayaan kepada Allah Azza wa Jalla itulah permulaan hidup. Dan kehilangan kepercayaan sama saja artinya dengan mati.
Kesadaran menyebabkan kita bangkit dari kelalaian. Kesadaran itu sangat mahal harganya dan sangat tinggi nilainya. Kesadaranlah yang menumbuhkan semangat dalam diri kita untuk melangkah lebih maju. Tatkala kesadaran telah timbul, itulah puncak dari kemenangan. Karena kita tidak akan raguragu lagi untuk meneruskan perjalanan menuju tujuan yang nyata. Tidak lagi meraba-raba. Hatipun dikuatkan, segala rintangan dan halangan diatasi dan diampuni.
Apabila telah sadar, kita akan terus berfikir, dimana aku, darimana aku, akan kemana aku, sampai dimana perjalananku, serta apa yang aku peroleh. Hatipun membulat teringat hanya kepada satu tujuan yang dituju. Dengan terang yang telah mulai tumbuh dalam hati, memberi sinar kepada fikiran, membuat pandangan menjadi jauh. Pandangan mata dan pandangan batin. Di luar nampak alam, di batin nampak Tuhan Pencipta alam.
Bertambah dalamnya makrifat kepada Allah dan tekunnya ibadah, bertambah teranglah sinar itu. Itulah yang dimaksudkan dengan Cahaya Iman. Kekuatan ibadah kepada Tuhan adalah laksana penggosok sehingga sinar itu lebih bersih dan lebih cemerlang.
Ahli-ahli tasawuf Islam mengatakan bahwa iman itu adalah Qaulun wa ‘Amalun (perkataan dan perbuatan). Iman itu bisa bertambah-tambah, tetapi juga bisa berkurang. Bisa berkurang dan berkurang sehingga habis sama sekali, hanya tinggal nama yang terletak dalam KTP.
Nabi S.a.w pernah mengibaratkan bahwa cahaya iman itu mempunyai pula ukuran biasa, tinggi, dan lebih tinggi. Cahaya tersebut bisa menyinari jauh sampai keluar negeri bahkan keseluruh muka bumi. Tetapi ada orang yang cahayanya hanya disekeliling dirinya, ada pula yang tidak bercahaya sama sekali dan ada yang dulunya bercahaya lalu dicabut oleh Allah cahaya itu dikarenakan dirinya kotor oleh perbuatan maksiat.
Oleh karena itu dosa atau maksiat sangat mudah mengotori dan menghilangkan cahaya iman. Dosa itu diumpamakan dalam Al-Quran dengan bintik kecil yang mula-mula sekali hinggap di hati. Jika bintik kecil sudah mulai terbentuk di hati, maka kita harus berusaha segera membersihkannya agar bintik itu segera hilang. Jangan biarkan bintik yang baru muncul karena dosa baru, tanpa pembersihan.

Takutlah jikalau berturut-turut bintik itu datang dan datang lagi sehingga hati akhirnya dipenuhi dengan bintik hitam dan seluruhnya menjadi hitam yang menutupi cahaya yang akan keluar dari dalam hati. Pembersihan bintik yang mula-mula itu adalah dengan tobat. Memohon ampun kepada Allah atas dosa yang telah terlanjur dilakukan, dan dengan kekerasan hati menghentikan dosa yang sedang diperbuat sekarang, lalu berjanji dalam hati dengan Tuhan bahwa tidak akan berbuat lagi dimasa yang akan datang. Lalu dengan diikuti amal kebajikan yang berturut-turut sampai pengaruh dosa yang dahulu itu habis tertimbun oleh banyaknya kebajikan yang dilakukan. Dengan demikian cahaya itu timbul kembali. Bahkan dari sebab kesungguhan itu, besar kemungkinan cahayanya akan lebih mengkilat, lebih cemerlang dan gemilang daripada dulu.
Cahaya iman itu bukan saja memberi cahaya hidup lahiriah yang sekarang, bahkan dapat memperpanjang umur dan membuat orang jadi kaya raya.
Kita semua maklum bahwa umur yang telah ditentukan Allah tidak bisa ditambah atau dikurangi. Demikian pula rezeki yang telah ditentukan tidak bisa kurang atau lebih. Semua sudah tertulis dengan pasti dalam ilmu Tuhan. Tetapi dengan iman bukan saja cahaya cemerlang menjadi bertambah, bahkan umur dapat bertambah panjang dan rezeki dapat berlipat ganda menjadi kaya raya, yaitu nilai umur itu diperpanjang dan nilai harta itu dipertinggi.
Jika dalam hidup ini kita menanamkan kasih sayang atau cinta kasih, pastilah umur kita akan panjang bahkan kadang-kadang lebih panjang dari usia itu sendiri. Kamu telah lama mati, tulang telah hancur dalam kubur, tetapi umur/nama masih ada. Yaitu karena jasa baik yang ditinggalkan, karena ilmu yang bermanfaat/berfaedah yang diajarkan, karena anak-anak yang diberi pendidikan dengan baik. Harta bendapun demikian pula. Ada orang yang kelihatan lahirnya kaya raya, namun miskin, jiwanya terus dalam kesepian, karena sahabatnya hanya harta itu saja, dia tidak berhasil merasa kenyang dengan sesama manusia. Orang tidak merasakan faedah dari hartanya yang banyak itu. Sebaliknya ada yang hartanya sederhana saja namun dia kaya raya. Kaya dengan kasih sayang, kaya dengan sahabat dan teman, kaya dengan budi yang dia tanamkan, walau sudah lama meninggal dunia tetapi budinya yang baik dikenang orang sepanjang masa.
Iman kepada Allah pastilah menumbuhkan cinta. Benci itu tidak dapat disertai iman. Dan iman adalah menumpuk kasih, iman tidak mengenal dendam. Itulah sebabnya manusia yang memperdalam kepercayaannya kepada Allah Azza wa Jalla bertambah lama bertambah cemerlang jiwanya. Dia mempunyai sinar cahaya iman yang makin lama makin gemilang. Sekalipun dia telah meninggal, cahaya itu masih tetap hidup dalam kecemerlangannya.

Baca selengkapnya dalam e-Book Wejangan Syekh Abdul Qadir Al Jailany Qaddasallah Sirrahu.

Download e-Book Wejangan Syekh Abdul Qadir Al Jailany (Pdf) <DISINI>

Kitab Riyadhus Shalihin Buku 1 dan Buku 2

Kitab Riyadus Shalihin adalah sebuah kitab yang sangat masyhur dalam dunia Islam. Kitab ini telah dijadikan pegangan selama ratusan tahun bagi para ulama, pelajar dan penuntut ilmu agama di belahan dunia. Di Indonesia sendiri kitab Riyadus Shalihin ini merupakan salah satu ‘kitab wajib’ bagi seluruh pesantren.

Pengarang kitab Riyadus Shalihin adalah Al Imam Al ‘Alamah al Muhaddits, Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an Nawawi ad Dimasqi as Syafi’i, beliau dikenal sebagai ulama paling ‘alim pada zamannya, zuhud dan wara’, serta kuat beramal sholeh. Dilahirkan di sebuah desa bernama Nawa dekat Damsyik, Suriah pada tahun 631 H. Beliau mulai menuntut ilmu di sebuah sekolah agama milik Habbatullah bin Muhammad Al Anshori yang terkenal dengan sebutan Ibnu Rawahah. Madrasah itu bernama Madrasah Ar Rawahiyyah. Imam Nawawi belajar di Madrasah ini mulai tahun 649 H, saat berusia delapan belas tahun, kemudian melanjutkan pelajarannya ke Sekolah Darul Hadits di Madrasah Usruniah. Beliau wafat di desanya sendiri yaitu desa Nawa, Damsyik, Suriah, pada tahun 676 H pada usia 45 tahun. Meskipun beliau belum sempat menikah seumur hidupnya, namun sebagai penghormatan, kaum muslimin tetap menggelarinya ‘Abu Zakaria’, yang menggambarkan seolah-olah beliau pernah memiliki seorang putra.

Riyadus Shalihin yang diartikan sebagai pelatihan orang-orang shalih, dibahas menjadi 19 kitab yang terbagi atas 372 Bab dan menyertakan sebanyak 1900 hadis. Dalam metode penulisannya, Imam Nawawi mengemukakan ayat-ayat Qur’an sebagai dalil utama untuk menguatkan dalil penyokong atas kitab yang akan dibahas, kemudian baru menyertakan dalil-dalil hadis sebagai penjabaran atas bab-bab yang dibahas tersebut.

Di dalam mukaddimah kitabnya, Imam Nawawi mengatakan bahwa kitabnya itu mengandung hadis-hadis yang beliau kutip dari Kutubussittah (enam kitab utama), yaitu kitab hadis yang paling utama dalam Islam. Dan secara tegas dikatakan bahwa beliau hanya mengutip hadis-hadis yang shahih dari kitab-kitab yang masyhur itu. Dengan demikian tidak akan ada satu hadis dho’if pun yang dimasukkan ke dalam kitab ini. Dalam hal ini, para ulama se-dunia selama ratusan tahun sudah membuktikan kebenaran ucapan Imam Nawawi itu. Selanjutnya, dalam perjalanan sejarah, kitab Riyadus Shalihin terbukti telah berhasil membantu para ulama untuk membentuk murid-murid mereka di pesantren-pesantren dan madrasah-madrasah, atau pada majelis-majelis ta’lim di masjid-masjid di seluruh Indonesia.

Syaikh Muhamamd bin Allan as-Shiddiqi as-Syafi’i al-Asy’ari al-Makki, seorang ulama Hijaz yang wafat pada tahun 1057 H telah pula mensyarahkan kitab Riyadus Shalihin Imam Nawawi ini ke dalam sebuah kitab yang berjudul Dalilul Falihin Li Thariqi Riyadis Shalihin sebanyak 4 jilid tebal. Kitab Syarah Riyadus Shalihin ini juga sangat terkenal di sisi para ulama ahlusssunnah wal jama’ah di dunia Islam, khususnya bagi para ulama dan santri di tanah air Indonesia.

Pembahasan Isi Kitab
Diawali dengan ‘kitab Ikhlas’, beliau membuka dengan manis kitab Riyadus Shalihin itu dengan menyertakan ayat-ayat Qur’an yang mendukung pembahasan kitab ikhlas tersebut. Hampir seluruh isi kitab ini mengandung ruh akan dorongan menghambakan diri kepada Allah serta ‘memupuk’ amal shalih. Mayoritas isi pada kitab-kitab awal adalah mengenai masalah hati dan kebersihan jiwa. Seperti masalah ikhlas niat, taubat, sabar, shiddiq, murraqabah, yaqin, tawakal, istiqamah, mujahadah, hemat, rajin, zuhud, qana’ah, dermawan, tolong-menolong, nasehat, amar ma’ruf-nahi mungkar, amanat, dan menghindari kezaliman.

Pada bagian berikutnya beliau menekankan kepada masalah muamalat mu’asyarah, yakni masalah-masalah yang berhubungan dengan kehidupan manusia bermasyarakat sebagai makhluk sosial, seperti: mendamaikan manusia, berbelas kasih pada anak yatim, orang miskin, menjaga hak wanita, hak suami dan istri, belanja keluarga, hak-hak tetangga, orang tua, anak dan keluarga, menghormati ulama, kaum kerabat, orang-orang sholeh dan lain-lain.

Pada pembahasan masalah moral dan adab, beliau menekankan juga tentang perihal keadilan, hubungan antara rakyat dan pemimpin, menjaga adab kesopanan terhadap orang hidup maupun orang mati, sampai adab-adab pribadi untuk diamalkan sehari-hari, tidak luput dari pembahasan beliau. Sedemikian lengkapnya, sehingga urusan pribadi umat dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, secara ‘manis’ dan rapi beliau bahas satu persatu.

Dalam masalah syariat, secara panjang lebar beliau membahas pula hukum-hukum dalam berbagai masalah; mulai dari masalah berpakaian, wudhu, sholat-sholat wajib, sholat-sholat sunat, puasa sunat, ziarah kubur, sumpah, jual-beli, dan lain-lain dengan menyertakan adab-adab dan kesempurnaan amal, lengkap dengan fadhilah amal, sehingga tidak monoton membahas masalah pokok fiqihnya saja. Pembahasan kitab ini diakhiri dengan indah pada Bab Istighfar, mulai dari dalil perintah beristighfar sampai kelebihan orang-orang yang beristighfar.

Wallahu a’alam bishowab

Link Download Bagian 1 <DOWNLOAD>
Link Download Bagian 2 <DOWNLOAD>

Link Download Riyadush Shalihin Nawawi Full Bagian 1 dan 2

Terjemah Kitab Al-Hikam - Ibnu Athaillah as-Sakandari

Al-Hikam, sebuah kitab tasawuf yang ditulis oleh seorang ulama besar dan guru sufi bernama Syaikh Ahmad ibn Muhammad ibn Atha’illah as-Sakandari.
Kitab al-Hikam banyak diapresiasi, dikaji, dan diajarkan kepada santri di pesantren-pesantren, hampir semua santri dan alumni-alumninya yang pernah belajar agama di pesantren dipastikan tahu dan mengaji kitab al-Hikam.
Kitab al-Hikam berisi aforisme-aforisme Ibnu Atha’illah yang mengajarkan banyak nasihat kepada pembacaya agar setiap waktu selalu dekat dengan Sang Pencipta, Allah Swt.
Ibnu Atha’illah lahir di Iskandariah (Mesir) pada 648 H/1250 M, dan meninggal di Kairo pada 709 H/1309 M. Julukan Al-Iskandari atau As-Sakandari merujuk kota kelahirannya itu.
Al-Hikam bukanlah satu-satunya karya Ibnu Atha’illah, sebab sang syaikh termasuk sangat produktif menulis, yang meliputi bidang tafsir, fiqih, tasawuf, hadis, ushul fiqih. Namun, di antara karya-karyanya itu, al-Hikam adalah karya yang paling terkenal, dan bahkan dianggap sebagai magnumopus Ibnu Atha’illah.
Karakteristik pemikiran Ibnu Atha’illah, terutama dalam bidang tasawuf merupakan kebalikan dari ulama terkenal Ibnu Taymiyah, yang memang hidup sezaman. Jika Ibnu Taymiyah menolak dan tidak memberikan tempat bagi pengamalan ajaran tasawuf, Ibnu Atha’illah sebaliknya, yaitu mengajarkan ajaran dan pengamalan tasawuf, sebab menurutnya tasawuf tidaklah negatif sebagaimana dikonsepsikan oleh Ibnu Taymiyah. Terbukti, dalam kitab al-Hikam, ajaran-ajaran tasawuf yang diajarkan oleh Ibnu Atha’illah menyandarkan langsung pada Al-Qur’an dan hadits.
Ibnu Atha’illah adalah tokoh penting dalam Thariqah Syadziliyah, beliau dikenal sebagai guru atau syaikh ketiga dalam lingkungan tarekat Syadzili setelah pendirinya Abu al-Hasan asy-Syadzili dan penerusnya, Abu al-Abbas al-Mursi. Ibnu Atha'illah-lah yang pertama menghimpun ajaran-ajaran, pesan-pesan, doa, dan biografi keduanya, sehingga khazanah tarikat Syadziliyah tetap terpelihara hingga masa sekarang.

Judul: Terjemah Al-Hikam (Pendekatan Abdi Pada Khaliqnya)
Penerjemah: H. Salim Bahresy
Penerbit: Balai Buku, Surabaya
File Format: DjVu (Program pembuka file DjVu untuk PC, download di sini)
Ukuran: 4.78 Mb

Download Terjemah Kitab Al-Hikam <DISINI>
Download juga Ibnu Athaillah - Al-Hikam (Arabic) <DISINI>

Semoga bermanfaat, Selamat membaca, Wassalam.

Fikih Sirah - Said Ramadhan al-Buthy

Di balik kisah jejak hidup Rasulullah S.a.w tersirat ajaran Islam yang komprehensif, baik terkait dengan akidah, hukum, maupun akhlak. Namun faktanya, tidak semua buku yang mengupas perjalanan hidup Rasulullah S.a.w memiliki karakter itu. Justru buku yang ada lebih banyak menjelaskan riwayat suatu kisah dan memberikan otoritas pada pembaca untuk menemukan hikmahnya sendiri.
Akan tetapi, tidak dengan buku yang satu ini. Karya Syekh Al-Buthy ini sangat lincah, cerdas dan membimbing kita pada pemahaman sirah yang benar. Inilah satu-satunya buku pegangan dasar tentang Sirah Nabi Muhammad S.a.w yang paling lengkap dan terpercaya. Sebagai ulama paling berpengaruh abad ini, otoritas sang penulis sama sekali tidak diragukan. Beliau rnenyajikan karya ini dengan ungkapan sastrawi yang ringan dan renyah. Buku yang penuh kejutan, bahkan dari kisah hidup Rasulullah S.a.w yang paling sederhana pun ternyata ada hikmah dan hukum yang patut kita renungkan.

Judul: Fikih Sirah - Hikmah Tersirat dalam Lintas Sejarah Hidup Rasulullah S.a.w.
Penulis: DR. Sa’id Ramadhan Al-Buthy
Penerbit: Hikmah (PT Mizan Publika)
File Format: DjVu (Program pembuka file DjVu untuk PC, download DISINI

Download e-Book Fikih Sirah - Said Ramadhan al-Buthy DISINI

Lafadz-lafadz Shalawat dan Penjelasannya

Dalam berbagai sumber, baik hadist maupun berbagai keterangan para ulama yang termuat dalam kitab-kitab kuning (istilah santri bagi kitab yang kertasnya berwama kuning), banyak sekali lafadz-lafadz shalawat.
Seperti yang terhimpun dalam kitab Muktashar fî Ma'ânî Asmâ Allâh al-Husnâ, dalam bâb Ash-Shalâh 'alâ al-Nabi, karangan Al-Ustâdz Mahmûd al-Sâmî, dan kitab Afdhalu al-Shalawâti 'alâ Sayyidi al-Sâdâti, karangan Yûsuf bin Ismâ'îl al-Nabhânî. Berikut ini adalah sebagian lafadz-lafadz shalawat tersebut baik yang bersumber dari hadits maupun kitab-kitab.

 

Download e-Book (Pdf) DISINI

al-Lu’lu’ wal Marjan

 



Nama eBook: al-Lu’lu’ wal Marjan

Penyusun: Muhammad Fuad Abdul Baqi


Pengantar:

Alhamdulillah, kemudian shalawat dan salam bagi Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan juga kepada keluarga, sahabatnya dan yang mengikuti mereka dengan baik hingga suatu yang pasti, amma ba’du

Kedua Kitab Shahih – Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim – dengan kesepakatan para ulama adalah adalah se-shahih-shahih kitab sesudah Kitabullah.

Berikut ini adalah eBook terjemahan al-Lu’lu’ wal Marjan yang merupakan hadits-hadits yang disepakati oleh Imam al-Bukhari dan Muslim (muttafaq alaih) yang disusun oleh Muhammad Fuad al-Baqi yang wafat tahun 1388 H –semoga Allah merahmati beliau– yang terdiri dari 56 bab dan 1906 hadits.

Semoga kitab ini memberi manfaat kepada kedua Imam, penyusun kitab, pengcompile eBook ini, yang menyebarkannya dan seluruh kaum muslimin, amin…

Download:
al-Lu’lu’ wal Marjan
Link 1 <DOWNLOAD>
Link 2 <DOWNLOAD>

Maulid Al Barzanji

 
Kitab Maulid Al Barzanji menceritakan dengan indah keagungan akhlak Nabi Muhammad S.a.w

Al Barzanji atau Barzanji adalah suatu doa-doa, puji-pujian dan penceritaan riwayat Nabi Muhammad S.a.w yang biasa dilantunkan dengan irama atau nada. Isi Berzanji bertutur tentang kehidupan Nabi Muhammad S.a.w yakni silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, dewasa, hingga diangkat menjadi Rasul. Di dalamnya juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad S.a.w serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia.

Nama Barzanji diambil dari nama pengarangnya, seorang sufi bernama Syaikh Ja’far bin Husin bin Abdul Karim bin Muhammad Al Barzanji. Beliau adalah pengarang Kitab Maulid yang termasyur dan terkenal dengan nama Mawlid Al-Barzanji. Karya tulis tersebut sebenarnya berjudul ‘Iqd Al-Jawahir (kalung permata) atau ‘Iqd Al-Jawhar fi Mawlid An-Nabiyyil Azhar. Barzanji sebenarnya adalah nama sebuah tempat di Kurdistan, Barzanj. Nama Al-Barzanji menjadi populer tahun 1920-an ketika Syekh Mahmud Al-Barzanji memimpin pemberontakan nasional Kurdi terhadap Inggris yang pada waktu itu menguasai Irak.
Kitab Maulid Al-Barzanji ini populer dan tersebar luas ke pelosok negeri Islam. Kandungannya merupakan Khulasah (ringkasan) Sirah Nabawiyah yang meliputi kisah kelahirannya, pengutusannya menjadi Rasul, hijrah, akhlak, peperangan hingga wafatnya. Dengan bahasa yang sangat puitis, pada bagian awal kitab dikisahkan peristiwa kelahiran Muhammad S.a.w ditandai dengan banyaknya peristiwa ajaib, seperti angin yang tenang berhembus, binatang-binatang yang tiba-tiba terdiam dan tumbuh-tumbuhan yang merundukkan daun-daunnya sebagai tanda penghormatan atas kehadirannya. Dikisahkan pula bahwa Nabi Muhammad S.a.w terlahirkan dengan bersujud kepada Allah dan pada saat yang bersamaan istana-istana para durjana tergoncang. Istana raja kisra retak dengan empat belas berandanya sampai terjatuh ke tanah. Demikian juga api sesembahan raja Persia yang tak pernah padam selama ribuat tahun, tiba-tiba padam saat terlahir Sang Nabi.

Kitab Maulid Al-Barzanji ditulis dengan tujuan untuk meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah S.a.w dan meningkatkan gairah umat. Dalam kitab ini riwayat Nabi S.a.w dilukiskan dengan bahasa yang indah dalam bentuk puisi dan prosa (nasr) dan qasidah yang sangat menarik. Secara garis besar, paparan Al-Barzanji dapat diringkas sebagai berikut:

1). Silsilah Nabi S.a.w adalah: Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qusay bin Kitab bin Murrah bin Fihr bin Malik bin Nadar bin Nizar bin Maiad bin Adnan.
2). Pada masa kecil banyak kelihatan luar biasa pada dirinya.
3). Berniaga ke Syam (Suriah) ikut pamannya ketika masih berusia 12 tahun.
4). Menikah dengan Khadijah pada usia 25 tahun.
5). Diangkat menjadi Rasul pada usia 40 tahun, dan mulai menyiarkan agama sejak saat itu hingga umur 62 tahun.

Bacaan shalawat dan pujian kepada Rasulullah bergema saat kita membacakan Barzanji di acara peringatan Maulid Nabi Mauhammad S.a.w.

Ya Nabi Salam ‘Alaika, Ya Rasûl Salam ‘Alaika, Ya Habîb Salam ‘Alaika, Shalawatullah ‘Alaika (Wahai Nabi salam untukmu, Wahai Rasul salam untukmu, Wahai Kekasih salam untukmu, Shalawat Allah kepadamu)

Download Audio Pembacaan Maulid Al Barzanji (Mp3) <DISINI>
Download Teks Arabic (Pdf) melalui <DISINI>
Download Terjemahan Indonesia (Pdf) <DISINI>
Versi lainnya Pembacaan Maulid Al Barzanji dapat didownload melalui link berikut ini:

Pembacaan Maulid Al Barzanji, Single link <DISINI>

Terjemah Kitab As-Syamail - Imam at-Tirmidzi

Semoga buku ini dapat menyegarkan hati umat islam dan mengabarkan betapa mulianya manusia yang Kau ciptakan sebagai khataman nabiyyin
Dengan segala kerendahan diri, puji serta syukur kita hanya teruntuk Tuhan yang satu, Tuhan Yang Agung, Tiada Tuhan Selain-Nya, Allah Swt. serta shalawat dan salam semoga selalu dilimpahkan kepada junjungan kita, suri tauladan kita, ya Habiballah Nabi Muhammad Saw. Beserta keluarga, sahabat dan pengikut-pengikutnya hingga akhir zaman.
Sungguh betapa indah dan betapa beruntungnya umat Nabi Saw. yang hidup di masa beliau hidup, umat yang ikut setiap jejak langkah Beliau berjihad fi sabilillah di bawah panji la ilaha ilallah. Namun sebenarnya kita lebih baik karena kita umat Nabi Saw. Yang hidup di masa beliau telah tiada berabad-abad lalu tetapi kita selalu mencintai dan merindukan Rasulullah saw. dan seharusnyalah bila kita mengaku mencintai dan merindukan beliau maka ikutilah sunnah- sunnah beliau tetapi tetap dahulukanlah yang wajib. Sesungguhnya Nabi Saw. Tidak akan puas, tidak akan bahagia, tidak akan senang jikalau seorang dari umat beliau masih berada dalam neraka.
Wahai Rasulullah Saw. betapa indahnya dirimu, engkau suri tauladan yang baik.
Wahai Rasulullah engkau adalah sebaik-baik ciptaan yang diciptakan oleh Allah Swt.
Wahai Rasulullah Saw. betapa dinantikannya dirimu, hingga para Nabi sebelummu pun ingin menjadi umatmu.
Wahai Rasulullah Saw. betapa dicintainya engkau, hinga saat engkau wafat tiada yang percaya bahkan sahabat `Umar berkata: "Tak seorangpun yang kudengar menyebut Rasulullah Saw. wafat, melainkan ia akan kupancung dengan pedangku ini!"
Wahai Rasulullah Saw. sungguh diri ini, ruh ini dan seluruh umatmu umat muslim mencintai dan merindukanmu, maka berilah syafa'at kepada kami dihari akhirat nanti agar kami dapat berkumpul dengan engkau di surga Allah Swt.
Sungguh tiada kesenangan yang melebihi kesenangan disaat terlantunkan kalimat-kalimat Al-Qur'an.
Sungguh tiada kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan disaat teringat akan kabar gembira yang dijanjikan Allah Swt dalam setiap ayat Qur'an.
Sungguh tiada kesedihan melebihi kesedihan disaat terbaca kalimallah yang mengabarkan tentang kepedihan yang akan kau berikan kepada orang-orang yang lalai.
Sungguh tiada ketakutan yangt melebihi ketakutan akan azabmu yang pedih.
Dan sungguh tiada ketenangan dan kedamaian yang tercipta layaknya saat terlantunkan lisan dan hati ini mengucap LA ILAHA ILALLAH MUHAMMADUR RASULULLAH.
Ya Allah semoga buku ini dapat menyegarkan hati umat islam dan mengabarkan betapa mulianya manusia yang Kau ciptakan sebagai khataman nabiyyin.
Semoga kami yang mempelajari buku ini Kau masukkan ke dalam golonganorang-orang yang Kau ampuni dosanya dan orang-orang yang mendapatkan syafa'at dari Baginda Nabi Muhammad Saw.
Amiin ya robbal `Alamiin.
Disalin dari tarjemah hadist mengenai PRIBADI DAN BUDI PEKERTI RASULULLAH SAW.
karya Muhammad bin `Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dhahhak as-Sulami (Imam at-Tirmidzi).
Download e-Book Terjemah Kitab As-Syamail (Pdf): DISINI

Shahih Bukhari dan Shahih Muslim

Imam Bukhari dan Imam Muslim adalah dua orang ulama yang pertama kali menyusun hadits, hadits-hadits yang mereka susun hanyalah hadits-hadits shahih sesuuai dengan syarat yang sangat ketat, diantara syarat itu adalah :
Periwayat hadits harus memliki sanad yang bersambung sampai kepada Rasulullah saw.
Periwayat hadits adalah orang yang bertaqwa.
Periwayat hadits bukanlah seorang pelupa.
Periwayat hadits adalah seorang yang memiliki hafalan yang kuat.
Kemudian isi dari hadits tersebut tidak menyelisihi hadits shahih yang lebih kuat.
dan masih banyak syarat-syarat lain.

Kitab Shahih Bukhari dan Kitab Shahih Muslim adalah kitab hadits paling shahih bila dibandingkan dengan kitab-kitab hadits lain, dua kitab shahih ini dikenal juga dengan sebutan As-Shahihain (kalau diartikan ke bahasa indonesia kira-kira artinya "dua kitab shahih'), akan tetapi tidak semua hadits shahih terdapat dalam kitab As-Shahihain tersebut. kita bisa mencari hadits-hadits shahih yang tidak terdapat dalam As-Shahihain dalam kitab ulama hadits yang lain seperti Shahih Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Hibban, Kitab-kitab sunan yang empat, Mustadrak Al-Hakim, Sunan Al-Baihaqi, Sunan Ad-Daruquthni, dan lainnya. akan tetapi selain As-Shahihain (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) beberapa haditsnya masih memerlukan penelitian ulama sesudahnya akan keshahihannya.


Dibawah ini adalah kumpulan Ebook dari Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dalam bahasa indonesia, bahasa arab dan bahasa inggris

Shahih Bukhori bahasa Arab (ZIP) >> DOWNLOAD
Shahih Muslim bahasa Arab (ZIP) >> DOWNLOAD

Single Link Shahih Bukhori wa Muslim >> DOWNLOAD